Senin, 30 Mei 2016

Puisi ku Arif Jalatunda Dekil Klayar

17 Februari 2016

Dejak kagum sang awan tak mampu mengisyaratkan adanya sang fakir
yang meminta karena kebiadaban dunia
apakah merekah mengetahui ilusi ciptaanya.

Dua Frase lampu kuning bagaikan halilintar
awan yang selalu membuat si dekil untuk ingin tahu
menerka bercak cahaya yang mengisyaratkan rapuhnya 
hati ini bagai sang kalbu dialah dua sinar yang mampu 
menerka isi hati insan yang tak tahu arah dari si buritan
bengal yang ingin selalu  ingin dimengerti oleh makhluk
yang bertuan namun sesosok makhluk mulai menyibakan 
arah yang selalu mengelit dalam pekatnya rimba dalam 
penindasan waktu kolosal ulah si siluman yang mengubah
duniawi dalam ulah lintah yang membawa petaka , tetapi 
arahnya berhaluan dengan keabadian .
Surabaya 17 Agustus 2012, Pukul 19.30 lewat 40 detik

Sepekat Awan Hitam

Salju yang turun dalam beberapa molekul
di moskow yang penuh dendam dan perih
dengki, semerbak sakura seakan menjauhi
dari sehebat seorang yang membuat tabu

Hutan rimbah telah merenggut semua
duniawi ini seakan tega melemparkan
berjuta partikel membuat rasa sombong 
ini tahu, jiwa ini seakan tahu jiwa yang
terkurung oleh rasa cinta yang memekat
dalam deruji kurungan hukum yang mengekang
tapi beribu pulau ini menguatkan dingin bulir es
dari dalam kalbu namun asa ini menguatkan tekad
jiwa untuk lepas dari kenistaan yang terus merenggut 
delima tapi tumbuhan yang tumbuh maupun berkembang 
dalam pusaran zaman yang serba sulit, apalagi untuk eksis.

Dunia terpecahkan segelontor mutiara yang mampu meremukan
jiwa nista, jiwa yang kering , jiwa yang perlu untuk dibakar oleh
panasnya gunung pengetahuan maka teguhkanlah jiwa yang lapar
akan keingin tahuan.

Surabaya, 21 Agustus 2012, Jam 06.30 Matahari Mengembang

Cerita Dongeng atau Cerita Mesum

Lalu lalang dunia ini penuh dengan pertanyaan yang tak terjawab
aku masih menanyakan dalam medio ini dunia aku ingin bertanya
pada diri yang rapuh bagai disiram air kapur yang keruh penuh mata
jelata yang memerah seakan ini membuat teka - teki yang tak terjawab
dunia ?

Dunia apakah cerita ini bagaikan debu atau gumpalan aspal LPA , yang
megerumuti bagai semut menempel pada tanah yang dianggap suci namun
padanya mereka menjadi kotor hina, anak kecil yang masih lugu , cerita hidup 
ini bagaikan dongeng , atau jalan latar dunia bagaikan plot cerita film blue 
Cerita Dongeng vs Cerita Mesum , itu kata - kata yang terus terucap di masing
masing insan yang bak mata mereka buta, namun sepertinya film dunia seakan 
tidak akhir ending , bila dongeng ada happy ending , bila cerita mesum akan berakhir 
perang tiada akhir .

Namun pada akhirnya aku ingin tahu akhir cerita dunia happy ending atau sad ending

Surabaya, 25 Agustus 2012, Jam 2 Subuh Ketika Suara Pujian

Bukit Cinta untuk Sumiarsih

Badak berjalan menjauhi hutan kelam hitam 
ilusi yang penuh dengan kepalsuan terperangkap
dalam hutan yang tak penuh dengan ujung jalan
tiga  hari yang lalu atau aku menemukan sesuatu
tempat yang ditemukan oleh sepasang mata.

Jauh dari lubuk hatiku jiwa yang terkekang oleh
pilihan cinta atau dendam , debur pantai menjauhi
kerlipan empat insan yang berbeda
joko si pengkhayal dari tanah nias yang matanya 
beringas seakan membawa bukit barisan beribu cinta untuk dambaan
yang terkasih sumiarsih yang dikasihi.

Pikiran kotor terus berlalang dalam zat psikotropika , yang akan memberikan
efek kecanduan pada mata sumiarsih , dirinya telah dibelalakan nafsyu syetan
keparat, aku ingin menerka mereka apakah joko failling love untuk pandangan
yang kedua puluh kalinya .

Hmmm perasaan  haru biru mata nakal yang akan membuat  diriku menyakskikan
cinta yang tak tahu akan berlabuh..

Sidoarjo, 27 September 2012 , Pukul 14.00 tepat .

Rumah Biru Nan Nyaman

Aku merasa nyaman bila aku mengerti 
mengerti desakan diasapi sesosok nyawa
myawa yang bernyawa , ilusi yang menciptakan
asa untuk menciptakan desahan insan yang hina

Nista yang selalu muncul dari balik tikar
yang mempunyai imajinasi tanpa arang
yang kudapatkan asap yang membuat
seorang yang hina menjadi mulianya

Dirumah bambu , bercak biru yang nyaman
lebih nyaman dari pelukan wanita yang lembut
lebih segar dari semangkok makanan 
yang disantap kemudian dibuang nan mubasir

Sajak kelam pun tak terkira oleh nafsu
yang mengerogoti jiwa yang nan rapuh ini
jiwa yang perlu setetes pencerahan dari yang suci 
nan mulia, tetapi intelektualku jauh dari kata 
sempurna mendekati kata pecundang yang pengecut
sesajak gurindam ini ku ciptakan untuk menenangkan
hati yang remuk oleh jiwa yang beringas akan kujelajahi
jengal dari tikar yang ku baring lebih baik dari kaum intelek 
yang haus dan lapar akan kebenaran dan keadilan cinta
yang selama ini masih ku pertanyakan 

Malang, Arjosari menjelang Maghrib.

Tengkorak dari Negeri Semu

Kumemandangi kuburan di sebrang hutan terlarang
yang tampak adalah batu - batu yang berserakan 
mereka seakan berbicara sahut menyahut untuk
memecahkan misteri yang selama ini menjadi tanda
tanya jawab, bukan kisi - kisi ulangan atau ujian hidup 
yang akan menghadang anak adam.

Nyanyian daun kamboja dan nada - nada dari 
Bunganya yang mengerti untuk menjadikannya
simponi malam yang kelam ditengah kerajaan hitam
namun suaranya seakan memecahkan suasana
malam yang sunyi di pekuburan insan yang mati
pekuburannya asyik memadat sinar surya yang lelah
untuk menyinari bumi yang telah pikun.

Nyanyian kelakar menandakan ibarat yang
akan menghilangkan keakraban antara dunia 
nyata dan maya yang saling berinteraksi
makhluk - makhluk mati seakan hidup memerlukan
pembebasan untuk mampu mengucapkan kata berpisah
untuk yang hidup yang egois.

Semerbak bau dari seroja kopi berpapasan
pada sinar bulan yang terus bersebrangan
haluan akan kah kuburan dan dunia nyata
bersatu dalam kemesraan hidup.
Malang, Tegaron, Kepanjen 20 Oktober 2012  tepat di samping kandang Babi
Pukul 12 .30 Tepat di Jembatan Sungai Metro 

Penagih Pajak VS Kyai Alim

Seorang tua bungku melewati masjid
dengan langkah yang sayu dan penuh
keputusasaan mengambil air wudhunya 
akan terlihat keraguan akan kesalahan 
yang Tak termaafkan di masa lalu.


Disisi lain ada seorang pujangga
dengan raut wajah yang sumringah
mata melirik kanan - kiri dengan 
rasa sombong bahwa dirinya telah
melakukan kebaikan yang membuat dirinya 
pantas untuk menghadap alloh swt.

Si Penagih Pajak berdoa kepada alloh 
ya alloh aku hina , aku tak pantas 
mengharap engakau , disisi lain si Pujangga alim
berdoa ya alloh aku bersyukur aku dipenuhi dengan
riski dan aku tak serakah tak seperti penagih pajak
dengan sombong bagaikan pohon beringin

Itu gambaran dua orang yang mempunyai sifat 
yang saling bersebrangan bagaikan dua hilir 
sungai  yang saling menjauh satu sama lain apakah daya 
mereka untuk menghadap yang kuasa dalam intisarinya
apakah mereka doanya diilhami , ini yang terus aku 
pikirkan pada saat ini jawaban yang semu  bin mustahil

Denpasar, Bypass Ngurah Rai 12 Desember 2012, 
pukul 18.00 WITA
 



 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar